Jukung Pajangan Merupakan Jukung Terbesar di Madura

Jukong Pajangan adalah istilah Salopeng atau Legung, ada pula yang mengatakan jukong naga leng-alengan. Jukung ini merupakan jukung terbesar di Madura, panjang rata-rata antara 13 m sampai I5 m. Lokasi jukung ini ada di dua tempat, yaitu Salopeng dan Legung.

Di Legung ada 100 buah lebih, sedang di Salopeng walau merupakan daerah asal. hanya tinggal 40 buah. Ciri khas Jukung Pajangan antara lain; Lenggi ada di belakang berukir keatas dan dapat ”dibongkar-pasang“’ Ukuran leng-alengannya yang khas naga dan burung sangat indahnya.

Awak jukungnya bila ber"majang" menangkap ikan jumlahnya lima orang. Menurut tradisi satu team jukung Pajangan yang lima orang tidak boleh ditambah ataupun dikurangi.



Pada gambar tersebut, tampak bagian-bagiannya seperti : 1. baker, 2. gubid, 3. cantek, 4. Tempat lenggi, 5. Ceddi’, 6. leng-alengan, 7. Pordapor dan sombi.

Kalau kita lihat dari depan, maka tampaknya sebagai Gbr. 20 :


Bagian depan disebut serang, dan pada serang ini terdapat loker atau lokeran. Apabila lokeran tersebut dilihat dari Samping dalam hubungannya dengan leng-alengan, maka gambamya menjadi sebagai berikut (Gbr, 21)



Perhatikan ukiran leng-alengan dan bentuk lokerannya. Sedang apabila kita lihat dari belakang, maka tampaknya sebagai berikut :


Pada bagian belakang atau gubid ini terletak lenggi jukong. Pajangan yang khas, yang bentuknya sebagaj gambar : 23. Pada gambar tersebut tampaknya sebagai mulut yang menganga dengan ukiran terawangan.

Lenggi ini dapat dibongkar pasang, sedang dalam foto nomor 2 dibelakang menunjukkan lenggi tersebut diambil dari Salopeng dan Legung. Bentuk lenggi ini pada jaman kuno bermacam-macam, dibeIakang ada contoh-contoh gambarnya.

Pada paruh leng-alengan kadang-kadang dipergunakan untuk tempat lampu atau tiang bendera, yang jelasnya dalam gambar ini.




Bentuk ‘leng-alengan" tersebut keseluruhannya sebagai gambar 25a. Lihat pulalah ukiran bagian ekornya yang digambar tersendiri. (Gbr. 25b)


Bagian belakang pada bagian penting Iainnya yang disebut pordapor atau padaporan. sebagiannya seperti gambar berikut :


Gambar-gambar diatas untuk mendapatkan gambaran menyeluruh, sehingga gambarjukong Pajangan ini secara utuh dapat terbayangkan, yang gambarnya penulis sertakan dihalaman berikut (Gbr: 27).

Untuk penjelasan bagian-bagian perahu pajangan ini beserta gambar-gambarnya seperti bagian por-dapor, bagian tubuh dalam panoer dayung, ceddi' serta sakangan, akan dijelaskan pada nama-nama bagian perahu dalam Bab berikutnya. Demikian pula untuk penjelasan tiap jenis perahu nama bagian-bagiannya tedapat dalam tersebut.

Jukung Pajangan dibuat dari kayu “kokop" atau “gindo", didatangkan dari daerah Banyuwangi. Kayu kokop dan gindo tahan air, bahkan walau telah lama dalam air Iaut, pada bagian tengahnya tetap tawar. Malah kadangkala jukung Pajangan ini dibuat di daerah Banyuwangi sendiri. Setelah selesai dikirim kc Salopeng. Di Salopeng, jukung tersebut ”didandani" sehingga terjadilah jukung Pajangan. Dari Salopeng inilah kemudian dikirim ke Legung. Di Salopeng ataupun di Legung pulalah leng-alengannya serta ukiran lengginya dibuat. Di Salopeng setiap-hari, jukong Pajangan tidak memakai lenggi. Kecuali pada tiap hari raya atau hari rokatan, barulah lenggi dipasang. Lenggi dianggap barang berharga yang perlu disimpan. Di Legung masih banyak tukang ukir leng-alengan dan lenggi, antaranya yang terkenal :

K. Karliya, K. Buraiya, K. Ridawi, K. Nurhatun. Pada umumnya tiap nelayan dapat membuat perahu. Gaya ukiran leng-alengan dan lenggi jukong Pajangan adalah “terawangan“, tidak ada yang "lapadan" ataupun "karangkangan".


Jukung Pajangan karena panjangnya mencapai hampir 15 m, lebar l m dan tinggi 1,5 m, maka muatarmya cukup banyak. Awak jukungnya saja lima orang, terdiri dari seorang pemegang kemudi atau pancer, empat orang lainnya sebagai pendayung. Karena jukung ini sekarang dianggap kurang praktis karena berat, banyak tidak dipakai lagi. Selain berlayarnya memakan waktu berhari-hari, biayanya juga cukup tinggi, padahal hasil ikannya tidak selalu mujur.

Pembuat jukung di Salopeng yang masyhur adalah Pak Mudarin alias Suyami dan Pak Mirugi... (IDR)





Sumber : 
Sulaiman BA, Perahu Madura (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981/1982)


Previous
Next Post »
Thanks for your comment