Sejarah Rumah Sakit Bangkalan

Pada zaman penjajahan jepang (1942-1945), Rumah Sakit Bangkalan pada waktu itu masih bernama Militaire Hospital yang dimanfaatkan sebagai tempat perawatan tentara Belanda dan Jepang yang sakit. Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan Belanda masuk kembali ke Indonesia, rumah sakit ini dikuasai NICA (tentara Belanda) selama 2 tahun (1945-1947).



Kemudian pada 1949, rumah sakit ini dikembalikan ke Pemerintah Republik Indonesia, setelah adanya pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Penyerahan ini secara teknis dilakukan oleh militer Belanda kepada TNI yang diwakili oleh Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat selaku Bupati Bangkalan saat itu.


Sejak penyerahan Rumah Sakit Militaire Hospital ke Indonesia, namanya diubah menjadi Rumah Sakit Bangkalan dan Dr. Sitiawan Kartosoedirdjo ditetapkan sebagai kepala rumah sakit tersebut. 

Lokasi Rumah Sakit Bangkalan waktu itu (tahun 1946) berada di Jalan Mayjen Sungkono atau belakang Pendopo Kabupaten (sekarang Koramil Bangkalan). Bangunan Rumah Sakit tersebut oleh masyarakat Bangkalan dikenal dengan sebutan "Roma Sake' Lajuh".




Mengingat letak dan kondisi rumah sakit lama tersebut kurang memenuhi syarat karena berdekatan dengan Stasiun Kereta Api sehingga mengganggu ketenangan pasien, maka Bupati Bangkalan Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat pada tahun 1957 merelokasikan tempat yang baru untuk dijadikan rumah sakit yang baru. Akhirnya pada tahun 1959, rumah sakit Bangkalan pindah ke lokasi yang baru di Jalan Pemuda Kaffa dengan status Rumah Sakit "Type D" dimana Direktur Rumah Sakit Bangkalan pertama adalah Prof. Dr. Sitiawan Kartosoedirdjo. Perlu diketahui bahwa tanah yang akan ditempati RSUD sekarang ini merupakan tanah hibah dari Mr. R.A. Moh. Zis Tjakraningrat.


Prof. Dr. Sitiawan Kartosoedirdjo merupakan dokter umum yang kemudian meneruskan pendidikannya ke spesialis Paru, dimana jaman penjajahan Belanda Prof. Dr. Sitiawan Kartosoedirdjo adalah orang Madura satu-satunya yang menjadi dokter spesialis paru.

Pada tahun 1987 Rumah Sakit Umum Daerah Bangkalan naik status menjadi Rumah Sakit "Tipe C" dengan SK Menkes No . 303 / Menkes / SK / 1987. Kemudian tahun 1999, Rumah Sakit Umum Daerah Bangkalan berubah nama menjadi  Rumah Sakit Daerah Prof. Dr. Sitiawan Kartosoedirdjo. Nama Beliau diabadikan diabadikan sebagai nama Rumah Sakit tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap Beliau atas dedikasinya terhadap dunia kesehatan dan kedokteran di Bangkalan.





Sedangkan Instalasi-Instalasi yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkalan pada tahun 1990-an antara lain :

RSUD Bangkalan pada tahun 1990

RSUD Bangkalan pada tahun 1990

Pintu masuk RSUD Bangkalan pada tahun 1990

Loket Pendaftaran bagi Pasien RSUD Bangkalan tahun 1990

Instalasi Rawat Jalan RSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Perawatan Penyakit Dalam RSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Perawatan KandunganRSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Bersalin RSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Perawatan Anak DRSU Bangkalan tahun 1990

Ruang Paviliun RSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Operasi RSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Anestesi RSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Laboratorium RSUD Bangkalan tahun 1990

Bagian Obat / Farmasi RSUD Bangkalan tahun 1990

Bagian Dapur RSUD Bangkalan tahun 1990

Bagian Linen RSUD Bangkalan tahun 1990

Ruang Jenazah RSUD Bangkalan tahun 1990

Selang beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 2005, RSUD berubah status menjadi RS Type-B Non Pendidikan dengan SK Menkes No. 922 / Menkes / SK / VI / 2005  yang akhirnya pada tahun 2009 nama Rumah Sakit Daerah Prof. Dr. Sitiawan Kartosoedirdjo berganti nama dengan RSUD Syamrabu (Rumah Sakit Syarifah Ambami Rato Ebu) Bangkalan. 





Adapun Nama-Nama yang pernah menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit di Kabupaten Bangkalan adalah sebagai berikut :











Sebagai bangunan bersejarah yang memiliki nilai arsitektur tinggi dan banyak menyimpan berbagai peristiwa penting didalamnya, sudah selayaknya jika bangunan Rumah Sakit Syarifah Ambami Rato Ebu dijaga dan dilestarikan. Tujuannya, disamping sebagai pelajaran sejarah dan budaya generasi mendatang, sehingga mereka bisa belajar bagaimana menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air, juga bisa dijadikan sebagai objek pariwisata.



Namun sayang, bangunan yang penuh sejarah bagi dunia kesehatan tersebut akhirnya sedikit demi sedikit hilang akibat kurang memahaminya terhadap peninggalan sejarah sehingga kurang peduli terhadap nilai history yang ada didalamnya, apalagi dipengaruhi oleh faktor kebijakan Pimpinan Daerah yang menjadi penentu dimana dengan dalih keindahan, kemegahan dan ketinggalan jaman hingga akhirnya bangunan RSUD Bangkalan ini harus dibongkar dan dimusnahkan.. (IDR)


Oleh : Indra Bagus Kusuma
Photo Koleksi : Bangkalan Memory, Cahya Ilahi, Raden Mas Achmad Syafii, RSUD Syamrabu Kabupaten Bangkalan

0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: