Misteri Ijuk (Eddhuk) Jadi Penangkal Petir...!!!

Banyak peristiwa dan kejadian atau sesuatu yang dianggap misteri dalam kehidupan, hal ini mengisyaratkan betapa keterbatasan kemampuan untuk memahami keseluruhan apa yang terbentang di alam jagad raya ini.



Sepanjang menelusuri keberadaan Bhujuk Kramat di Desa Lantek Barat Kecamatan Galis yang masih keturunan langsung 4 Generasi dengan Pangeran Maha Patih Kraton Blega "Macan Pote" bertiga kami menapaki jejak-jejak beliau bersama keturunan langsung pada Generasi ke 8 dari Beliau langsung yaitu Raden Mas Achmad Syafii dan Raden Mas Jimmy Restu Bumi, semakin kuat nafsu berburu semakin menjauh beliau rasanya dari kami, namun semakin mengatur tempo ritmis nada-nada sendu, kami semakin tertarik ketempat peristirahatan Beliau...Wallahu a'lam wa bissabab.  
 

Para nelayan tradisional di Madura tempo dulu misalnya, kebanyakan memasang bulu-bulu ijuk/eddhuk di ujung tiang-tiang perahu.

Mereka pada umumnya beranggapan dengan memasang ijuk seperti itu, segala jenis yang disebut-sebut sebagai hantu laut tidak akan mengganggu perjalanan perahu di lautan bebas.

Dengan memasang bulu-bulu ijuk/eddhuk di ujung tiang perahu juga diyakini akan menangkal sambaran petir apabila terjadi badai di laut lepas. Dari cerita pengakuan banyak nelayan di sejumlah pesisir Utara dan selatan Madura, sampai sekarang mereka masih meneruskan kebiasaan leluhurnya menancapkan bulu-bulu ijuk pada tiang tertinggi di armada perahu atau kapal yang mereka gunakan untuk mengarungi lautan. 

Ijuk/eddhuk yang bersumber dari Pohon Enau (Aren), katanya, bagaimanapun tingginya tidak pernah ada yang tersambar petir seperti yang sering menimpa Pohon Kelapa atau pohon-pohon lainnya yang tumbuh menjulang di hutan-hutan.

Dengan alasan yang sama untuk menangkal bahaya sambaran petir, sejumlah petani di pedalaman Madura sampai sekarang jika melintas atau bekerja di suatu tanah hamparan luas dalam musim penghujan, masih banyak yang menyelipkan lidi iduk di antara jepitan celana atau saku baju dalam posisi tegak seperti antena.


Masih berkait dengan Pohon Enau yang sarinya dijadikan bahan baku pembuatan Gula Aren/Gula Gentong (Gula Merah), lidinya sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mencambuk orang-orang yang disebut-sebut 'kemasukan barang halus'.

Orang-orang yang 'kemasukan' tersebut gejalanya dalam keadaan tiba-tiba saja tak sadarkan diri, menagis, atau berteriak-teriak histeris. Seringkali juga berbicara aneh-aneh atau berbicara dalam bahasa asing yang fasih.

Pada hal yang bersangkutan dalam keadaan sadarnya, tidak mengetahui bahasa asing tersebut, dengan mencambukkan lidi ijuk/lentena aren (lidi dari pelepah Pohon Aren) ke tubuh orang 'kemasukan', seringkali lantas siuman atau sadar diri.

Dari pengalaman sejumlah rimbawan, juga ada diceritakan jika mereka menjelajah hutan selalu membawa perlengkapan berupa tali hitam yang dipintal dari bulu-bulu ijuk/eddhuk.

Tali ijuk tersebut dibentangkan mengelilingi lokasi dimana mereka akan membuat kemah, maksudnya untuk menghalau masuknya binatang melata berbisa sejenis ular ke lokasi tempat perkemahan mereka.


Dari banyak pengalaman, mereka telah membuktikan berbagai jenis ular hutan tak mau melintas ke lokasi yang dibatasi bentangan tali ijuk. Sejumlah guru ngaji di pedalaman Madura masih menganjurkan kepada murid-muridnya untuk menggunakan potongan lidi ijuk (enau) yang disebut 'Lentena Aren' sebagai alat bantu penunjuk huruf-huruf ketika membaca kitab suci Al-Qur'an.

Kajian ilmiah, tentu saja, masih perlu dilakukan untuk mengungkap misteri ijuk yang sejak dulu dianggap memiliki multimanfaat. Jika saja ada kebenaran, seperti yang diyakini dan dibuktikan dalam pengalaman lapangan selama ini ijuk ataupun lidik ijuk mampu menangkal petir, Wouuwww...

By Doink

Catatan Kecil dalam perjalanan menelusuri Bhujuk Keramat di Lantek Barat Galis

0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: