Sekilas tentang Jaran Kencak

Pada tahun 1806, Raden Tumenggung Sosrodiningrat/Pangeran Cakraningrat III (Panembahan Siding Kapal) yang berkuasa si Madura Barat Sampang memindahkan sebanyak 250.000 orang sampang madura ke pulau jawa bagian tapal kuda seperti Bondowoso, Situbondo,Lumajang, Jember, Probolinggo, dan Pasuruan. Orang madura yang menjadi punduduk di Lumajang juga menggemari kesenian bernama jaran Kepang ini, karena seokor kuda dengan kostum perang khas pewayangan jawa bertarung berdiri menggunakan dua kaki dengan pawangnya, setelah kemerdekaan republik Indonesia jaran kepang lebih di kenal dengan jaran pencak dan menjadi Jaran Kencak yang dikenal hingga saat ini.

Jaran Kencak sering berkaloborasi dengan kesenian lain, seperti tari Glipang Lumajang dan Probolinggo hingga Reog Ponorogo. Jaran kencak sering digunakan untuk mengiringi khitan, pernikahan hingga karnaval pemerintahan hari jadi Lumajang.

Saat ini jaran kencak bisa di jumpai di luar Lumajang, bahkan orang madura yang setelah belajar jaran kencak membuat kesenian serupa dengan nama Jaran Serek di kota Sumenep.
Jenis Jaran Kencak ada 2 macam :

1. JENIS PENCAK

Kuda yang di kenakan pakaian jazirah yang minimalis bertarung dengan pendekar atau pawang, hingga di kalahkannya kuda tersebut. Di ilhami dari asalmula terjadinya jaran ngepang.

2. JENIS HIAS

Munculnya reyog di Lumajang dan Jember yang di bawa oleh orang Ponorogo langsung pada tahun pada tahun 1922 mempengaruhi kembali pada jaran kencak. kalah populernya jaran kencak dengan banyaknya reog di lumajang yang sering pentas dan rekaman piringan VCD, pada tahun 2011 muncul inovasi kostum jaran kencak menyerupai reog ponorogo dengan berbagai macam pernak-pernik, rumbai-rumbai, untaian benang khas reog , kostum yang lebih besar dengan warna yang warna-warni dan bulu merak pada kuda untuk menarik perhatian seperti halnya reog.

Jenis jaran kencak hias ini tidak melakukan atraksi seperti jenis pencak yang melakukan berbagai gerakan tubuh pada kuda.

Selain kemahiran menari, daya tarik kesenian Jaran Kencak adalah kostum kuda yang berwarna mencolok. Seperti kemul (selimut/pelana) berwarna kuning keemasan, mahkota atau Jamang bercorak bunga warna warni, kalung dada, dan lengkap dengan ulur di sepanjang punggung kuda.

Sejarah Kesenian Jaran Kencak sebenarnya adalah kesenian asli Madura yang dipakai untuk bersenang-senang. 


Seiring penyebaran masyarakat Madura yang begitu besar di pulau Jawa seperti disebutkan pada awal tulisan ini, menjadikan kesenian Jaran Kencak juga mulai dikenal dan berkembang di Jawa.

Jaran Kencak di sebut dengan jaran kepang meskipun bukan terbuat dari anyaman bambu, karena pada saat itu kuda yang di kenderai rombongan dari Ponorogo hendak mengirimkan delegasi ke bali, untuk menjalin persaudaraan kerabat dan sudara Batara Kathong dari kerajaan Majapahit yang mengungsi ke bali.

Namun ketika sampai di Lumajang, kuda yang di kenakan seragam jazirah perang seperti di pewayangan untuk di persembahkan di bali memberontak kesana kemari dan menendang-nendang tiada henti melawan rombongan, hingga dibuat sebuah keputusan bahwa kuda dan beberapa penjaga untuk tetap tinggal di lumajang untuk menenangkan kuda, sedangkan rombongan tetap melanjutkan ke Bali.

Hingga akhirnya kuda yang memberontak menjadi tenang dan jinak kembali, warga sekitar yang melihat kuda dijinakan tersebut merasa terhibur, Sejak saat itu menjadi sebuah kesenian bernama Jaran Ngepang yang berarti kuda menendang, namun lebih dikenal dengan nama Jaran Kepang.

Musik yang di gunakan pada jaran kencak di Lumajang ada dua jenis :

1. Gamelan Reyog, dengan musik rancak khas Bali dan terompet bernadakan khas reyog;
2. Gamelan Saronen, dengan musik rancak khas Bali dan terompet bernadakan khas madura (asimilasi budaya yang terjadi saat itu)
Kegemulaian gerakan tarian kuda tergantung akan ketrampilan sang pawang dalam melatih dan musik yang mengiringinya. Musik yang mengiringi adalah seperangkat gamelan sederhana yang berupa kendang, slompret, kempul, dan kenong. Penabuhan atau cara memainkan gamelannya amat terpengaruh oleh empat budaya yakni Jawa pada kenong dan kempul, peniupan slompret pengaruh reog Ponorogo dan pencak Madura, sedang pemukulan kendang seperti gaya Bali dengan cara bagian kiri memakai tangan sedang bagian kanan memakai tangan dan tetabuh.

“Yang dinamakan kencak itu kan cara memainkan kaki bergantian. Jadi kakinya harus tepat mengikuti gendang. Bila gong besar berbunyi tanda lagu selesai maka kuda akan berhenti dengan sendirinya” (Doink)


Sumber : 
http://www.kompasiana.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Jaran_Kencak
Previous
Next Post »
Thanks for your comment